Banjir Karawang (2)

Karawang, Lumbung Padi Nasional


Banjir dilahan pertanian

Banjir Karawang, bukan hanya permasalahan yang diakibatkan oleh tingginya curah hujan di Wilayah Bandung dan sekitarnya yang menyebabkan air Sungai Citarum meluap, tetapi lebih dari itu mencangkup permasalahan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum dari hulu hingga hilir yang mengalami kerusakan lingkungan teramat parah. Dahulunya sepanjang DAS Citarum adalah hutan, namun kini berlaih fungsi menjadi lahan pertanian semusim.

Sungai Citarum dari dekat

Kalangan petani di hulu Citarum enggan mengganti sayuran dengan tanaman kayu keras, alasannya tanaman sayuran hasilnya lebih menggiurkan. Mereka bisa panen 35 ton kentang dalam sehektar lahan, Ini jauh lebih besar dari pada bertanam di daerah hilir yang hanya 20 ton. Kenyataan ini diperparah dengan penanaman yang tidak sesuai dengan kaidah konservasi. Tanaman sayur ditanam pada kemiringan 45 derajat, dan tanpa sengkedan maka ketika hujan turun, tanahpun tergerus dan langsung terbawa air masuk ke dalam sungai, akibatnya terjadi pendangkalan yang menyebabkan mudah meluap ketika hujan deras datang karena daya tampungnya mengecil. Tidak butuh berkilo-kilometer dari hulu untuk melihat kerusakan Citarum, dari jarak 500 meter dari sumber mata air, di Desa Tarumajaya Kabupaten Bandung, Sungai Ciatrum yang bening sudah berubah menjadi hijau akibat limbah kotoran sapi dari peternakan warga. Sekitar 2 kilometer sudah berubah menjadi coklat keruh karena erosi ladang sayur di perbukitan. 25 Kilometer dari hulu air sudah berubah menjadi dua warna, disatu sisi berwarna coklat hasil erosi, dan disisi yang lain berubah kehitaman karena limbah pembuangan pabrik tekstil. (Kompas, 29 Maret 2010).



Lalu, mereka yang tinggal di hilir DAS Citarum hidup dalam kepungan banjir. Banjir yang membawa muatan lumpur dan sampah itu tiba di hilir sampai ke Daerah Karawang yang menggenangi ribuan hektar sawah dan puluhan ribu rumah. Menurut Pak Daipin, Ketua Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI), untuk Wilayah Karawang, sebanyak 1300 hektar sawah rusak terendam banjir, padahal banyak diantaranya yang siap panen. Karawang adalah penghasil beras Aromaterapik, Pandan Wangi, dan Rojolele yang terkenal dengan kwalitas berasnya yang pulen.



Jumat, 3 April 2010. Kami berkesempatan mengunjungi Karawang, kurang lebih 3 jam dari Jakarta, kami dari Pengkajian Al Husna yang terdiri dari Bu Trias, Mbak Hasnah, Mbak Dina, Mbak Ria Ambar dan saya, (perempuan semua) tiba di Wilayah Rengasdengklok. Dari sana kami dipandu oleh Pak Daipin dan Pak Dirman dari IPPHTI, serta Pak Nana Suryana, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) meninjau lokasi sawah yang terndam banjir yakni di Kecamatan Pakisjaya. Dalam perjalanan kesana, sepanjang perjalanan pemandangannya sangat indah.. sawah hijau di kiri kanan jalan, bahkan ada yang mulai menguning dan sebagian ada yang sedang di panen. Benar kalau dikatakan bahwa Karawang adalah salah satu wilayah lumbung padi nasional. Karena kurang lebih 93.000 hektar wilayahnya adalah lahan pertanian padi.


tempat penampungan



Namun tak jauh dari sana, kendaraan kami diminta untuk berhenti di Kecamatan Pakis Jaya. Tibalah kami di wilayah banjir. Sejauh mata memandang hanya genangan air kecoklatan yang tampak.. Sawah hijau yang mulai menguning pun tak tampak. Pemandangan yang kontras dari yang kami lihat sebelumnya. Genangan bajir itu meliputi dua dusun, yakni Tenjo Jaya dan Tanggul Jaya. Dari sana kami menuju ke Telukbuyung, salah satu pemukiman penduduk yang pada saat banjir melanda, ketinggian air hingga ke atap rumah. Tampak-tenda-tenda masih berdiri di pinggir tanggul. Truk PMI juga tampak di tepi jalan, juga sebuah tempat penampungan air bersih dengan keran-keran. Sudah lebih dari sepekan banjir melanda kawasan ini, air sudah surut, yang tampak adalah lumpur dan bau busuk menyengat. Sebagian penduduk masih tinggal di penampungan.

Bersama para petani Karawang

Dalam kesempatan ini kami memberikan bantuan berupa uang yang ditujukan kepada kepala keluarga, sebanyak 200 buruh tani. Namun kami tidak menyerahkan langsung, melainkan hanya simbolik ke 6 KK. Masing-masing menerima Rp 50.000. Sedangkan sisanya, kami berikan kepada Ketua Gapoktan agar mereka yang menyerahkan langsung kepada para petani. Penyerahan bantuan disaksikan oleh Pak Nursan, Lurah Teluk Jaya. Sungguh kami sangat terharu, meski bantuan kami tidak seberapa mereka sangat senang menerimanya. Mudah-mudahan bermanfaat dan berkah. Seorang warga juga mengharapkan agar nantinya kami bisa menyumbang buku-buku dan peralatan sekolah untuk anak-anak mereka. Semoga keinginannya dapat terpenuhi. Insya Allah.


Bu Trias, wakil Al Husna memberi bantuan simbolik

Pulang dari Rengasdengklok, sekitar pukul 4 sore. Kami mampir di sebuah rumah makan untuk merecanakan langkah selanjutnya. Oh ya, Pak RW di Telukjambe yang juga sebagai guru ngaji mengharapkan bantuan Al Quran. Karena Al Quran yang ada di rumah-rumah penduduk ikut terendam banjir. “Baik pak, pesan bapak adalah PR. Kami akan mengusahakannya”. Insya Allah.

Kembali ke Sungai Citarum, mungkinkah banjir Citarum dapat teratasi? Tampaknya sulit. Perlu ketegasan untuk memulihkan DAS Citarum. Mengutip pernyataan Kompas, “Jika kerusakan tak kunjung diperbaiki, inilah kiamat sebelum waktunya !”


latar belakang Banjir Karawang lahan pertanian




Jakarta, 4 April 2010.
-meita-

posted under |

0 comments:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Pengikut

Jumlah Pengunjung Situs ini :

Wadah silaturahim, mengkaji al Qur'an dan kegiatan sosial
Al Qur'an mengingatkan agar akal memperoleh kebenaran.
Hati harus diarahkan untuk mencintai kebenaran itu.







Al Husna

Didirikan pada Bulan Juni tahun 2006.







Awalnya terdiri dari para alumni SMASH Training yang bertujuan untuk memaknai Asmaaul Husna dalam pikiran, sikap dan perbuatan. Untuk tetap bersilaturahim dan menambah wawasan pengetahuan Islam, kami mengadakan Pengkajian al Qur'an yang diadakan Insya Allah setiap Hari Sabtu. Dua kali sebulan. Minggu ke-2 dan ke-4







Namun tidak saja untuk para alumni, tapi terbuka untuk siapa saja yang berminat untuk mendalami dan mengkaji Al Qur'an. Oleh karena itu kami menamakan "Pengkajian" karena ingin membahas dan mengkaji ayat-ayat Al Qur'an.







Dalam perkembangannya kegiatan tidak saja Pengkajian al Qur'an, tapi kami juga berkiprah dalam kegiatan sosial antara lain pemberian santunan untuk yatim dan dhuafa, memberi bantuan korban bencana alam serta mendukung kegiatan mobil pintar. Untuk lebih menambah wawasan, kami juga menyelenggarakan seminar dan kajian buku.







Pengurus Pengkajian Al Husna





Penasehat : Bp Sutisnawan



Ketua : Ibu Mirna Antonio Sjafii



Ketua Bidang Pengkajian : Ibu Suri Hidayat



Bendahara : Ibu Trias Putri



Sekretaris : Mb Ria Rasjim



Para pengurus lainnya:



Ibu Zulfah Makki, Ibu Wiwin Didi, Ibu Dina Ariyati, Mb Hasnah Malik, Ibu Meita A. Lubis, Ibu Imas Kartika, Mb Ambar. Dkk.



Kami berharap agar langkah yang kami lakukan mendapat Rahmat dan Ridho dari Allah SWT serta bermanfaat bagi umat.



Amiin Ya Robbal Alamiin



Alamat Email :

pengkajian.alhusna@gmail.com































































































































































































































































Recent Comments